" Sebuah Polis adalah tanda cinta yang paling tulus - by your side, for life"

Tampilkan postingan dengan label tabungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tabungan. Tampilkan semua postingan

Mengenal Jenis Asuransi

Mengenal Jenis Asuransi.  Banyak produk asuransi ditawarkan. Tapi hati-hati, tidak setiap produk sesuai dengan kebutuhan Anda. "Harus dilihat produknya," kata Ketua Dewan Asuransi Indonesia, Cornelius Simanjuntak kepada VIVAnews.com, Kamis, 14 Juli 2011.

Menurut dia, konsumen harus jeli melihat produk, jangan asal beli. Sebab, asuransi jiwa terdiri atas beberapa produk. Masing-masing jenis memiliki manfaat yang berbeda-beda, guna melayani berbagai macam kebutuhan dan kemampuan nasabah.

Tak hanya itu, Corlelius menyarankan agar calon klien melihat rekam jejak perusahaan asuransinya. "Apakah perusahaan asuransi itu terdaftar di Kementerian Keuangan atau tidak," ujar Cornelius.

Bila setiap produk asuransi berbeda, lalu apa jenis-jenis produk asuransi? Berikut jenis-jenis asuransi menurut Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) dalam laman resminya:

1. Asuransi jiwa berjangka (Term)

Ciri khas ini terletak pada proteksi maksimum dengan preminya yang relatif rendah. Sebab itu, jenis produk ini menarik bagi calon tertanggung yang mempunyai kebutuhan asuransi besar, namun daya belinya terbatas.

Siapa yang cocok dengan polis ini?
- Calon pemegang polis yang ingin memproteksi masa depan anaknya.
- Calon pemegang polis yang baru meniti karier.

2. Asuransi jiwa seumur hidup (Whole life)

Ciri khas asuransi ini adalah jenis dasar asuransi jiwa permanen yang memberi proteksi asuransi seumur hidup.

Siapa yang cocok dengan produk ini?
- Calon pemegang polis yang ingin memiliki proteksi jiwa sekaligus menghasilkan dana tabungan yang dapat dipakai untuk kebutuhan darurat.
- Calon pemegang polis yang membutuhkan proteksi penghasilan permanen (biaya tagihan rumah sakit).
- Calon pemegang polis yang ingin mendapat sejumlah pertumbuhan modal investasi.

3. Asuransi jiwa dwiguna (Endowment)

Ciri khas asuransi ini adalah proteksi yang memberikan jumlah uang pertanggungan saat tertanggung meninggal dalam periode tertentu, dan sekaligus memberikan seluruh uang pertanggungan jika ia masih hidup pada masa akhir pertanggungan.

Karena memberikan dua manfaat, asuransi ini disebut dwiguna atau unit link. Produk ini berguna bagi calon pemegang polis yang ingin terlindung dari dampak keuangan karena kematian dini.

Siapa yang cocok dengan produk ini?
- Calon pemegang polis yang memerlukan dana bagi pendidikan anak.
- Calon pemegang polis yang ingin memiliki sejumlah dana untuk kebutuhan di masa depan.
- Calon pemegang polis yang ingin memiliki dana pensiun.
   
Asuransi ini terbagi dalam dua jenis, asuransi jiwa unit link single (premi tunggal) dan asuransi jiwa unit link reguler (premi berkala). Ciri khas asuransi premi tunggal adalah premi dibayarkan secara sekaligus. Biasanya asuransi ini premi untuk pemegang polis yang ingin berinvestasi jangka panjang.

Sementara itu, ciri khas asuransi premi berkala merupakan investasi jangka panjang yang polisnya diatur secara berkala. Pemegang polis ini biasanya orang yang memilih investasi namun tetap terproteksi. (art)




 

Biaya Pendidikan Mahal? Rencanakan Mumpung si Upik masih kecil

Biaya Pendidikan Mahal? Rencanakan Mumpung si Upik Masih Kecil
Biaya Pendidikan Mahal?.  Sosiolog dari Universitas Indonesia, Ida Ruwaida Noor MSi mengingatkan orang tua agar merencanakan pendidikan anaknya sejak jauh hari. Dengan begitu, ketika waktunya tiba, orang tua dapat terhindar dari kepanikan finansial. “Rencanakan alternatif sekolah anak, ke institusi pendidikan seperti apa yang diinginkan,”

Ida melihat kebanyakan orang tua masih belum banyak yang serius merencanakan kelangsungan pendidikan putra-putrinya. Hal yang sama terjadi di sektor kesehatan keluarga. Dana keluarga lebih besar teralokasikan untuk konsumsi yang tidak mendesak semisal untuk busana dan rokok. “Atur kembali prioritas anggaran rumah tangga Anda,” sarannya.
Sementara itu, di masyarakat ada pula kecenderungan lain. Mereka menganggap sekolah anak sebagai simbol status. “Sebaiknya kembalikan kepada kebutuhan anak, renungkan apakah anak betul-betul memerlukan jenis pendidikan seperti yang ditawarkan oleh sekolah yang memiliki nilai prestise itu,” kata Ida.

Pembiayaan pendidikan masa kini merupakan hal yang kompleks. Semakin tinggi jenjang pendidikan biasanya lebih tinggi pula dana yang diperlukan untuk mengenyamnya. “Namun, variasi di tiap jenjang juga ada, seperti di SD rintisan bertaraf internasional yang bisa jadi lebih mahal daripada SMP negeri biasa,” Ida mencontohkan.
Ida menjelaskan biaya pendidikan yang dibebankan ke orang tua siswa sangat terkait dengan sejumlah faktor utama. Sebut saja, jenis kurikulum, fasilitas, dan insentif kesejahteraan guru. “Sekolah yang mengedepankan mutu tentu mahal.’

Kualitas pendidikan anak akan terjamin ketika ia mengikuti pelajaran di sekolah yang mampu memberikan pendidikan yang baik. Namun, sebetulnya, orang tua dapat mengambil alih sedikit porsi peran guru di sekolah, yakni dengan memberikan pengajaran keterampilan sebagai bekal daya saing anak. “Persoalannya, mayoritas orang tua menyerahkan tanggung jawab pendidikan sepenuhnya pada pihak sekolah,” sesal Ida.




Mempersiapkan Biaya Pendidikan Sejak Dini

Mempersiapkan Biaya Pendidikan Sejak Dini.

Pendidikan adalah salah satu bekal paling penting bagi anak. Masalahnya, biaya pendidikan di Indonesia kian mahal. Untuk itu, orang tua sebaiknya mempersiapkan biaya pendidikan anak sejak dini agar bisa memberikan pendidikan terbaik bagi putra-putrinya. Bagaimana pun hingga saat ini masih diyakini bahwa tingginya pendidikan seseorang menjadi salah satu tolok ukur dalam pencapaian jenjang karier.

Berdasarkan survei KONTAN 18 Mei-24 Mei 2011 terhadap 250 responden yang sudah menikah, mayoritas (69,2%) sudah mempersiapkan dana pendidikan anaknya hingga sarjana strata 1 (S1).
Untuk biaya pendidikan anak hingga lulus S1, mayoritas responden (22,4%) menyiapkan Rp 200 juta-300 juta. Lalu 18,8% menargetkan Rp 100 juta-Rp 200 juta. Responden yang berencana menyekolahkan anaknya di luar negeri, menyiapkan dana di atas Rp 1 miliar (2% responden).

Mayoritas responden yang belum mempersiapkan biaya pendidikan anak akan membiayainya dari tabungan (bukan tabungan pendidikan). Yang menarik, 13% responden hingga kini belum tahu dari mana sumber dananya.
Kisaran biaya pendidikan anak hingga Rp 400 juta tersebut tentu saja untuk pilihan sekolah di dalam negeri. Lain cerita kalau ingin menyekolahkan anak di luar negeri. Biaya yang diperlukan untuk studi dan cost of living berkisar sekitar Rp 500 juta per tahun. Artinya kalau seorang anak menyelesaikan pendidikannya 4 tahun, maka biaya yang diperlukan kurang lebih sekitar Rp 2 miliar. Pada survey KONTAN kali ini, ada 2,5% responden yang memperkirakan kalau biaya sekolah anaknya di atas Rp 1 miliar.

Walaupun biaya menyekolahkan anak tersebut tidak murah, tapi 69% responden ternyata sudah mempersiapkannya sejak jauh hari. Sebanyak 39,6% (99 responden) responden menyiapkan dana pendidikannya dalam bentuk asuransi pendidikan dan 28,8% (72 responden) dalam bentuk tabungan pendidikan. Sisanya, para responden menyiapkan dana itu dalam investasi di emas (7,2% atau 18 responden), properti (6% atau 15 responden), reksadana (5,2% atau 13 responden), dan lain-lain (9 responden).

Lalu, bagaimana bagi responden belum mempersiapkannya? Sebanyak 14,4% responden ternyata sudah mencoba menyisihkan uangnya dalam bentuk tabungan umum, dan 5,2% berencana untuk mengikuti program asuransi pendidikan. Sedangkan 4% responden menyatakan belum tahu dari mana sumber biayanya nanti. Beberapa responden (2,8%) berharap bisa mendapatkan pinjaman dari kantor untuk alternatif sumber dananya.
Besarnya perkiraan biaya pendidikan ini berlaku untuk saat ini, bagaimana kalau 10 tahun ke depan? Andai saja kenaikannya dihitung 10% per tahun. Ya, tinggal dikalikan saja. Lalu bagaimana dengan Anda? Sejauh mana persiapannya?

Grafik 1 :Anda Sudah Menyiapkan Dana Pendidikan Anak Sampai Lulus S1?
Anda Sudah Menyiapkan Dana Pendidikan Anak Sampai Lulus S1?

Grafik 2 : Persiapan Dana Pendidikan Anak
Persiapan Dana Pendidikan Anak

Grafik 3 : Bagaimana Kalau Belum Menyiapkan Dananya?
Bagaimana Kalau Belum Menyiapkan Dananya?
Grafik 4 : Target Biaya Pendidikan Anak dari SD Hingga Lulus S1
Target Biaya Pendidikan Anak dari SD Hingga Lulus S1
Grafik 5 : Berdasarkan Gender
Berdasarkan Gender
Grafik 6 : Usia Responden
Usia Responden
Grafik 7 : Pengeluaran Keluarga
Pengeluaran Keluarga 

TIM RISET : KONTAN
Sumber : http://klasik.kontan.co.id/survei/



Tips Perencanaan Pengelolaan Keuangan

Tips Perencanaan Pengelolaan Keuangan

Tips Perencanaan Pengelolaan Keuangan

Secepat apa Anda akan memiliki anak? Kapan mulai berburu mencari rumah dijual? Bagaimana merencanakan keuangan sehari-hari?
Itu baru segelintir hal yang dipikirkan pengantin baru setelah malam pertama. Menurut sebuah badan yang bergerak di bidang perencanaan keuangan, buatlah tujuan jangka panjang, diskusikan, lalu rencanakan dengan detail. Buat perencanaan ini jadi suatu kegiatan yang menyenangkan untuk dikerjakan berdua.

Berikut ini beberapa tips untuk membantu perencanaan keuangan.

  1. Sejarah buruk dalam kredit yang dimiliki oleh satu orang dapat memengaruhi sejarah kredit pasangannya. Kalau sejarah buruk muncul karena kartu kredit, lunasi segera, lalu buat kartu kredit dari bank lain. Sejarah buruk yang dibiarkan berjalan bisa membuat seseorang masuk ke dalam daftar hitam (black list) Bank Indonesa.
  2. Punya rekening gabungan berarti mengurangi biaya administrasi, tapi berarti akan lebih banyak negosiasi. Tips-nya, buat rekening gabungan untuk pengeluaran rumah tangga dan tabungan. Rekening pribadi dipertahankan untuk pengeluaran pribadi.
  3. Ada asuransi? Untuk asuransi kesehatan, coba hitung untung-rugi punya asuransi untuk keluarga atau satu asuransi untuk setiap anggota keluarga. Untuk asuransi kendaraan dan rumah, pilih asuransi paling baik yang bisa Anda bayarkan preminya. Asuransi lain yang boleh diperhitungkan adalah asuransi jiwa untuk memastikan pasangan tetap terjamin ketika hal buruk terjadi pada Anda.
  4. Cari perencanaan pensiun sesegera mungkin. Semakin cepat, semakin baik. Tanya apakah perusahaan Anda memiliki fasilitas ini. Jika tidak, banyak kok badan keuangan yang menyediakan jasa ini.
  5. Kalau Anda hendak beli rumah, rencanakan cicilan KPR yang tidak akan membebani keuangan. Seluruh cicilan usahakan sekitar sepertiga dari total pendapatan. Anda bisa menggunakan simulasi KPR yang ada di Internet untuk mengetahui besarnya cicilan yang harus dibayar tiap bulan.

9 Tips Sukses Menabung

Bagi sebagian orang, bahkan bagi yang berpenghasilan tinggi sekalipun, menabung bisa jadi tergolong gampang-gampang susah dilakukan. Sebab, berhasil atau tidaknya menabung bukan tergantung dari besarnya penghasilan, melainkan dari kedisiplinan yang selalu terjaga.

Bila Anda termasuk sulit menabung, tips berikut ini bisa Anda coba.
  1. Tentukan terlebih dulu tujuan menabung, agar Anda memiliki target tertentu yang harus dicapai. Dengan demikian, Anda akan lebih bersemangat menabung.
  2. Alokasikan dana yang akan ditabung segera setelah gajian, bukan di akhir bulan, untuk mencegah uang habis sebelum sempat disisihkan.
  3. Pisahkan rekening untuk menabung dan rekening pemasukan Anda. Dengan demikian, keuangan lebih mudah dikontrol setiap bulan.
  4. Berapa pun penghasilan Anda, biasakan untuk menabung, sehingga Anda akan terbiasa melakukannya. Penghasilan yang kecil bukan alasan Anda tak bisa menabung.
  5. Biasakan melakukan pengeluaran dengan jumlah lebih sedikit daripada penghasilan Anda, agar tidak tekor di akhir bulan.
  6. Buatlah daftar anggaran selama satu bulan baik yang rutin maupun tidak, sehingga tidak ada uang yang habis tanpa juntrungan.
  7. Jangan lapar mata. Bila Anda memang gampang terpancing untuk berbelanja, jauhi hal-hal atau tempat yang bisa membuat Anda menghabiskan uang di luar rencana anggaran, misalnya mal.
  8. Bila penghasilan Anda bertambah, naikkan pula dana yang akan ditabung.
  9. Tak ada kata terlambat untuk menabung. Mulailah menabung sedini mungkin, sehingga hasil yang didapat juga lebih maksimal.
Sumber : http://www.tabloidnova.com/Nova/Karier/Keuangan/9-Tips-Sukses-Menabung 

Menghitung Biaya Sekolah Anak




Menurut perencana keuangan Mike Rini Sutikno, CFP, biaya sekolah anak selalu menjadi masalah keuangan rumah tangga. Pendidikan sama pentingnya dengan kebutuhan pokok seperti sandang, pangan, dan rumah. Dan setiap orangtua harus bisa mengantisipasi, karena pertama, pendidikan itu, meski bukan kebutuhan hidup pokok, tapi sangat krusial dalam rangka membangun kemandirian seseorang anak. Dengan pendidikan, anak nantinya bisa memiliki basic kompetensi untuk bisa menjadi individu yang mandiri, termasuk mandiri secara finansial,” jelas Mike. Oleh karena itu, orangtua harus bisa menyelanggarakan dana pendidikan. Masalahnya, biaya ini tidak murah, selalu naik dari tahun ke tahun. Dalam mempersiapkan dana pendidikan, orangtua dituntut untuk bisa mengalokasikan penghasilan mereka, sementara kemampuan ini tidak merata. Semakin berat dana pendidikan yang harus disiapkan, semakin besar pula dana yang harus dialokasikan.

Orangtua rata¬-rata punya penghasilan, tapi belum tentu bisa mengalokasikan untuk tabungan dana pendidikan anaknya. Faktornya banyak, mulai dari beban biaya hidup, kesalahan pengelolaan keuangan keluarga, menganut gaya hidup yang kurang tepat, sampai inflasi.

Untuk itu harus ada sebuah perencanaan dana pendidikan, sehingga orangtua mampu membayar biaya pendidikan anak sesuai jenjang pendidikannya. Konsep dana pendidikan adalah orangtua menabung sepanjang jangka waktu dana pendidikan anak. Umumnya, jenjang pendidikan anak adalah dari usia 4 (playgrup) sampai usia 18 tahun, jadi sekitar 14 tahun. “Nah, orangtua harus menabung dalam jangka panjang, dan kemudian akan diambil sesuai jenjang pendidikannya, misalnya SD, SMP, dan seterusnya.”

Tampaknya sederhana, tetapi praktiknya banyak tantangan. Kenapa? “Jangka waktu 14 tahun itu jangka waktu yang lama. Inflasi yang terjadi selama 14 tahun itu bisa membuat dana pendidikan membengkak berkali lipat. Ini memberatkan pengalokasian penghasilan orangtua. Juga, rata-rata kenaikan biaya pendidikan tidak sama di berbagai daerah dan sekolah. Nah, tergantung orangtua mau menyekolahkan anak dimana. Orangtua juga harus mempertimbangkan bakat dan minat anak.”
Yang juga harus dipertimbangkan adalah kalau dana pndidikan tersebut berhenti di tengah jalan, karena orangtua tak lagi mampu menabung. Misalnya karena sakit, meninggal, kena PHK, dan sebagainya. Ini harus diantisipasi juga.

Kriteria dana pendidikan yang berhasil adalah pada saat akan digunakan, jumlah dana pendidikan itu cukup, sesuai dengan kenaikan inflasi. “Tinggal tergantung dimana orang tua akan menabung atau menginvestasikan dana pendidikan. Masalahnya, tidak semua orangtua paham bagaimana bisa menabung dengan efektif, karena itu berarti harus punya pengetahuan tentng produk-produk investasi. Bicara mengenai instrumen finanial, berarti kita harus memahami ada risiko dan return (tingkat keuntungan).”

Target Dana
 Jadi, bagaimana cara yang efektif? Pertama, orangtua harus mengitung jenjang pendidikan yang akan dilewati anak. Orangtua harus memahami tahapannya. Misalnya berapa usia anak sekarang, kapan masuk SD, SMP, SMA, dan seterusnya. Contoh, pada tahun 2009 anak berusia 3 tahun, berarti ia akan masuk SD tahun 2011, SMP tahun 2017, dan seterusnya.
Langkah pertama, orangtua harus memperhitungkan kapan membayar dana pendidikan. Bukan sekarang, tapi 3 tahun lagi, 9 tahun lagi, dan seterusnya. Setelah mengetahui kapan membayar, berarti orangtua akan tahu berapa lama waktu yang ia punya untuk mempersiapkan dana pendidikan.
Setelah tahu waktunya, kemudian dilihat berapa biayanya sekarang dan nanti. “Ini berarti orangtua harus tahu kemana anak akan disekolahkan, karena biaya pendidikan di berbagai sekolah nggak sama. Orang tua harus tahu ke sekolah mana anak akan disekolahkan.” Misalnya, SD A, SMP B, SMA C, dan seterusnya. Kalau sudah memutuskan pilihan sekolah, orangtua bisa minta informasi sekolah yang bersangkutan. Tanyakan berapa uang pangkal tahun 2009, begitu juga SMP dan SMA, kalau perlu sampai perguruan tinggi.
Selanjutnya, orangtua harus memperkirakan uang pangkal masing-masing jenjang tersebut kelak ketika si kecil akan masuk. Misalnya dengan perkiraan asumsi kenaikan 10 persen per tahun, berarti pada tahun 2011 ketika si anak mau masuk SD A, uang pangkal dari yang misalnya Rp 5 juta, naik jadi Rp 8 juta. “Ngitungnya gampang, kok, pakai rumus feature value , yaitu menghitung berapa nilai masa depan suatu jumlah tertentu saat ini, dengan asumsi kenaikan tiap tahun. Paling gampang tanya ke penjual produk tabungan dana pendidikan seperti bank atau agen asuransi,” kata Mike.
Ketemulah target dana untuk masuk SD tahun 2011, misalnya Rp 8 juta. Berarti dalam 3 tahun, orangtua harus bisa mengumpulkan dana Rp 8 juta. Berapa rupiah setiap bulan yang harus disisihkan dari penghasilan agar tahun 2011 bisa terkumpul uang untuk sekolah anak. Itu baru SD-nya saja. Hal sama berlaku untuk SMP dan SMA.

Setelah tahu berapa target dan setoran setiap bulan, masih ada lagi yang harus dipertimbangkan, yaitu seandainya terjadi sesuatu di tengah jalan, misalnya orangtua kena PHK atau sakit sehingga tak bisa lagi memperoleh penghasilan tetap.

Kalau begitu perlu diasuransikan. Sebetulnya, menabung sendiri dan beli asuransi sendiri juga bisa. Jumlah yang diasuransikan adalah jumlah dana pendidikan yang perlu dicover, tak perlu berlebihan.” Sekarang, pilihan untuk mengantisipasi risiko tidak terbayarnya DP karena hal-hal tak terduga yang terjadi pada orangtua jauh lebih praktis dan mudah diakses. Biasanya ada produk dana pendidikan yang sudah sekaligus satu paket dengan asuransi. Yang ditawarkan, jika terjadi risiko pada orangtua, maka orangtua terbebas dari kewajiban membayar setoran. Setoran diterusin pihak asuransi.

Yang perlu dilakukan adalah berapa jumlah yang harus diasuransikan. “Pakai saja perhitungan yang di awal tadi. Misalnya SD Rp 8 juta, SMP sekian, dan seterusnya. Jumlah tadi bisa ditaruh sekaligus dan diambil ketika anak mulai masuk ke tiap jenjang pendidikan. Kalau tadinya mencicil, maka sekarang sekaligus untuk mengantisipasi risiko tadi.”

Harus Kreatif
Orangtua harus bersikap lebih kreatif supaya persipan dana pendidikan yang ia jalankan tepat guna. Dana pendidikan itu kan, sifatnya jangka panjang dan ada tahapannya. Masalahnya, kalau orangtua mengambil produk keuangan standar, seperti tabungan, keuntungannya kecil sekali, sementara kenaikan biaya dana pendidikan jauh lebih besar dibanding suku bunga yang bisa diberikan oleh bank. Artinya, kalau orantua ngotot tetap memakai cara itu, setoran tabungan jadi sangat berat karena harus mengejar target dana investasinya."

Oleh karenanya, Mike menganjurkan, jika ada alternatif lain yang bisa memberikan return hasil lebih tinggi untuk investasi dalam jangka panjang, orangtua sebaiknya mempelajari. Orangtua harus meningkatkan selera menerima risiko kerugian. Ada orang yang senangnya cuma menaruh uang di bank, itu artinya dia konservatif sekali, tidak mau ambil risiko apapun. Sebab, produk di luar tabungan selalu ada risiko, seperti lembaga keuangan tutup atau kondisi ekonomi yang tidak stabil yang menyebabkan kinerja instrumen keuangan yang kita pilih turun (risiko sistemik).
Dan karena dana pendidikan ini memiliki tahapan, maka jangka waktu investasinya bervariasi. Ada yang jangka pendek (1-2 tahun), menengah (3 – 5 tahun) dan jangka panjang. Tabungan dan produk keuangan konservatif cocok untuk yang jangka pendek, sementara jangka menengah dan panjang lebih baik pilih produk yang memberikan return lebih baik, seperti obligasi retail, reksadana pendapatan tetap, atau emas. Di atas 5 tahun bisa memaai reksadana saham. “Properti juga bisa, tapi modalnya besar. Masing-masing memang ada plus minunya.”

PERSIAPAN DANA PENDIDIKAN, PENTING TIDAK SIH?

Oleh : Safir Senduk
 
Selalu bisa ditebak bahwa setiap kali awal tahun ajaran baru, semua orang sepertinya bicara tentang pentingnya pendidikan. Dan kalau Anda perhatikan, hal ini biasanya menular kepada semangat bersekolah dari anak itu sendiri. Coba perhatikan betapa bersemangatnya anak-anak Anda ketika mereka masuk sekolah kemarin.

Wajar saja, kalau Anda sebagai orang tua menunjukkan semangat tentang pentingnya pendidikan, ditambah lagi lingkungan di sekitar Anda juga menunjukkan semangat yang sama, maka pastilah semangat tersebut juga akan tertular ke anak Anda sehingga wajar bila anak-anak sekolah sangat bersemangat masuk sekolah pada hari-hari pertama tahun ajaran baru kemarin.

Tetapi sayangnya, dari pengalaman saya selama ini, saya banyak menemukan orang tua yang ­ walaupun sadar bahwa pendidikan itu sangat penting ­ tetapi tidak begitu mempedulikan persiapan dana pendidikan itu sendiri. Sebagai contoh, banyak cerita tentang beberapa orang tua yang meminjam uang kesana-kemari pada saat datangnya tahun ajaran baru. Selain itu, Kantor Pegadaian juga penuh karena banyak orang yang menggadaikan barang-barangnya untuk membayar uang sekolah anak.

Kenapa sih orangtua kadang tidak siap dari segi dana ketika tiba waktunya si anak masuk sekolah? Jawabannya, mungkin karena orangtua tidak menganggap bahwa dana pendidikan itu penting untuk dipersiapkan sejak sekarang. Lho, apakah memang penting menyiapkan dana pendidikan untuk anak? Jawabannya saya tulis besar-besar di sini: PENTING.
Ada empat alasan kenapa dana pendidikan penting untuk dipersiapkan, bahkan kalau bisa sejak sekarang:
  1. Mahalnya Biaya Pendidikan Pada Saat Ini Biaya Pendidikan pada saat ini sudah cukup tinggi. Sebuah universitas swasta terkenal di Jakarta ada yang meminta uang kuliah sebesar sekitar Rp 60 - 70 juta bagi mereka yang masuk kuliah selama 5 tahun sampai lulus nanti. Bagi banyak orang, biaya pendidikan setinggi itu sudah tentu terasa mencekik leher.

  2. Naiknya Biaya Pendidikan dari Tahun ke Tahun Sudah biaya pendidikan di rasa mahal, jumlah tersebut biasanya akan terus naik dari tahun ke tahun. Dengan asumsi kenaikan sebesar 10 persen per tahun, maka dalam 17 tahun mendatang, bukan tidak mungkin Biaya Kuliah selama 5 tahun di S1 bisa mencapai sekitar Rp 300 juta.

  3. Ekonomi Tidak Selalu Baik Orang tua bisa saja menganggap bahwa penghasilannya sekarang aman-aman saja mengingat baiknya keadaan ekonomi sekarang ini. Sehingga mereka yakin bila si anak masuk sekolah nanti, dananya pasti tersedia. Tetapi, bila keadaan ekonomi menurun, bukan tidak mungkin penghasilan orang tua menjadi berkurang atau malah berhenti sehingga bisa saja dana pendidikan untuk si anak tidak akan siap bila dibutuhkan.
  4. Fisik Manusia Tidak Selalu Sehat Jangan anggap bahwa fisik manusia akan selalu sehat untuk bisa terus bekerja dan mendapatkan penghasilan. Bila Anda tidak menabung dan mempersiapkan dana pendidikan anak dari sekarang, maka bila suatu saat kelak fisik Anda tidak memungkinkan untuk Anda bisa terus bekerja, jangan harap dana pendidikan untuk anak Anda bisa tersedia.
Selain keempat alasan di atas, sebetulnya ada satu alasan lagi yang membuat kenapa dana pendidikan penting sekali untuk dipersiapkan sejak sekarang, yaitu: "Karena jadwal pendidikan anak Anda tidak mungkin dimundurkan atau ditunda." Jadwalnya sudah pasti. Contohnya, kalau anak Anda sudah waktunya masuk SD tetapi Anda tidak punya dana yang cukup untuk membayar uang pangkal-nya, masak Anda mau memundurkan jadwal anak Anda masuk SD ke tahun berikutnya hanya supaya Anda bisa membayar biaya uang pangkal-nya secara penuh? Tidak, kan? Jadi, persiapkan dana pendidikan anak Anda sejak sekarang. Jangan tunda lagi. 

Gaji naik turun, ga perlu manyun

Uang memegang peranan penting dalam urusan duniawi. Tak sedikit yang mengatakan uang adalah segala-galanya, karena dengan memiliki uang melimpah kita bisa membeli semuanya, bahkan mengatur hidup orang lain.
 
Hidup bahagia dengan uang. Namun, tak semua pandangan itu benar. Ada pula, orang yang memiliki uang melimpah, namun hidupnya tetap saja tak bahagia. Di satu sisi, ada juga orang yang memiliki uang pas-pasan, tetapi menikmati hidup dengan suka cita.
 
Setiap orang memiliki berbagai cara untuk memperoleh uang. Ada yang bekerja keras, menjadi seorang wiraswasta, atau menipu orang lain. Cara terakhir tak mungkin kita terapkan, karena bertentangan dengan norma sosial.
 
Bekerja atau membuka usaha menjadi satu cara memperoleh uang atau pendapatan. Akan tetapi, persoalan kembali muncul, saat kebutuhan hidup kian pendapatan yang kita peroleh tak lagi mencukupi.
 
Perencana keuangan dari Shildt Financial Planning Risza Bambang mengatakan kerap kali orang tak mampu mengukur diri memenuhi kebutuhan hidup, karena tidak mampu menghitung posisi aset yang dimiliki saat itu.
 
“Makanya saya sering sebut, orang yang memiliki uang banyak tetapi utangnya juga menumpuk, pada dasarnya dia bangkrut. Utang itu bukan harta, karena pembayarannya yang bisa dicicil seolah bisa dianggap harta,” ujarnya.
 
Oleh sebab itu, dia memberi masukan kepada masyarakat yang memiliki pendapatan tetap maupun yang tingkat pemasukannya naik turun setiap bulan, agar benar-benar mengetahui posisi keuangan yang dimiliki saat ini.
 
Langkah berikutnya, menetapkan tujuan keuangan, misal mulai mempersiapkan biaya pendidikan anak. Nominal yang disiapkan harus terukur dengan melakukan hitung-hitungan kotor, taruhlah kebutuhan pendidikan anak Rp20 juta.
 
“Jangan sekali-kali mempunyai pola pikir kita bekerja hanya untuk mencari makan, karena orang hidup harus memiliki tujuan,” katanya.
 
PENDAPATAN TIDAK TETAP
Nah, masalah yang biasanya dihadapi orang yang pendapatannya tidak tetap adalah kekurangan dana. Suatu saat pendapatan sebulan tinggi, karena target penjualan terpenuhi sehingga tak masalah dengan kebutuhan yang harus dicukupi.
 
Kadang pula, pendapatan bulanan itu tiba-tiba turun drastis. Menghindari hal ini, dia menyarankan melakukan proyeksi tertulis dan membuat pembukuan, sehingga apa yang dibutuhkan dapat dipersiapkan dananya.
 
Sebagai contoh, sebuah keluarga saat ini memiliki dana pendidikan anak sebesar Rp 5 juta, namun untuk kebutuhan pendidikan anak lebih tinggi lagi pada 2015 dibutuhkan dana Rp 20 juta.
 
Melihat selisih Rp 15 juta tersebut, dia harus mempersiapkan dana untuk empat tahun kedepan sebesar Rp 15 juta.
 
Dengan demikian kita mengetahui berapa jumlah dana yang dibutuhkan secara keseluruhan, kapan dana tersebut digunakan, bagaimana cara mengumpulkan dananya, kemana dana tersebut akan diinvestasikan, serta bagaimana mengantisipasi risiko-risiko yang berpotensi muncul.
 
"Jangan melakukan cara-cara lain yang tidak terdapat dalam rencana. Misalnya nih, lagi pergi belanja. Kebutuhan yang tertulis di daftar beli barang A, namun pada kenyataannya membeli barang B. Jangan sampai terjadi,” jelasnya.
 
Hal ini merupakan penyimpangan dalam perencanaan keuangan, sehingga bisa membuat apa yang dibutuhkan tertunda untuk terbeli atau bisa sebaliknya malah tidak jadi terbeli.
 
Terakhir, memastikan seluruh rencana keuangan berjalan sesuai alur yang disusun. Dengan demikian, saat muncul selisih dari rencana yang disusun atau terdapat kesulitan dapat segera ditemukan, sehingga langkah perbaikan menjadi lebih tepat berdasarkan data yang akurat.
 
Arya Permadi dari One Consulting menambahkan prioritas mengelola keuangan yang harus diperhatikan adalah menempatkan pos pengeluaran rutin dan pengeluaran tidak rutin.
 
Pengeluaran rutin dapat dirunut dari mulai cicilan utang yang bersifat jangka pendek hingga yang sifatnya jangka panjang. “Cicilan jangka pendek karena biaya keterlambatan cicilan umumnya lebih tinggi dibanding yang lain,” katanya.
 
Selain itu, pos pengeluaran rutin mencakup biaya sekolah anak, mulai dari biaya kursus, operasional rumah tangga, dan lain-lain.
 
Adapun untuk pos pengeluaran tidak rutin, mencakup pengeluaran yang bisa ditunda dan tidak menimbulkan efek apapun pada aktifitas sehari-hari, seperti membeli pakaian, berlibur, atau nonton.
 
Mengatur keuangan bukan berarti pelit, tetapi mendisiplinkan gaya hidup agar tetap bahagia. 

Muda, Lajang Banyak Uang

Uang dan usia muda adalah perpaduan yang mematikan, tanpa campur tangan kebijaksanaan. Karena walaupun uang dan usia muda memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk menikmati hidup pada praktiknya ini bukanlah pekerjaan mudah.
Anak muda hampir selalu tidak bisa melakukan dua hal yang sesungguhnya sangat penting: a) Sabar; b) Sendirian. Mereka harus selalu melakukan sesuatu, menginginkan apa pun yang diinginkan orang lain sekarang.
Alasan di balik segala kehebohan ini adalah sikap ikut-ikutan yang disebut kekinian alias tren. Ketika seorang anak muda mengartikan sukses sebagai "membeli apa yang orang lain beli" itu akan menciptakan kekuatan gajah yang segera menarik kelompok usia ini ke dalam budaya konsumtivisme. Bisakah melawannya? Dengan perencanaan keuangan, anak muda bisa.

Titik kritis bernama pernikahan
Dunia romantisme yang dijejali kisah pangeran dan putri yang hidup bahagia selamanya, membuat masyarakat terobsesi dengan pernikahan. Bahkan anak perempuan sudah menggendong boneka bayi mereka seakan-akan ibunya. Anak laki-laki? Oh...mereka asyik bermain apa pun, kecuali menjadi ayah boneka.
Perempuan mungkin baru menyadarinya ketika dewasa, bahwa meminta seorang lelaki menikahinya sama saja menyuruh kucing mandi!
Banyak yang belum menyadari bahwa isu pernikahan adalah isu utama keuangan anak muda lajang. Ini adalah titik kritis yang akan mengubah tidak hanya status seseorang, tetapi bagaimana dia harus mengelola keuangan.
Sayangnya. pernikahan terutama di masyarakat kita, adalah sesuatu yang dianggap otomatis, artinya Anda pasti tahu sendirinya nantinya. Termasuk soal keuangan, nanti saja diatur setelah menikah, persis orangtua kita dulu.
Alih-alih merencanakan keuangan untuk persiapan kehidupan pernikahan, anak muda justru menunggu pernikahan mengajarkan itu pada mereka. Padahal di luar karier, pekerjaan kantor, dan bisnis maka benak anak muda dipenuhi oleh satu dorongan besar - lawan jenis mereka. Dengan kultur budaya masyarakat kita, ini hanya berarti satu hal yaitu pernikahan.
Masa lajang umumnya singkat, karena gairah anak muda sulit membuat mereka hidup sendirian (tak seorang pun yang bisa). Sayangnya persiapan keuangan ke arah kehidupan berkeluarga tidak direncanakan dengan baik oleh perempuan maupun laki-laki.
Akibatnya, anak muda lajang cenderung ceroboh dengan uang mereka, dikarenakan tidak mengintegrasikan antara fase kehidupan selanjutnya, yaitu kehidupan berkeluarga dengan keuangan mereka.

5 Prioritas Keuangan 
Prioritas berarti mendahulukan yang utama dibandingkan dengan yang lain, yaitu kebutuhan yang harus ada bahkan tak jarang bersifat genting dan tidak bisa ditunda. Dalam prioritas, anak muda kebanyakan masih bersikap seperti anak kecil. Mereka cenderung malawan aturan dan semaunya terhadap apa yang mereka ingin utamakan.
Ini menggeser makna prioritas sebagai kebutuhan menjadi keinginan. Hanya membutuhkan sepersekian menit untuk menebak apa keinginan anak muda. Sebut saja dua kata gaul dan gaya maka Anda akan bisa membuat daftar belanja terdiri dari ratusan barang, tempat-tempat nongkrong dan sederetan aktivitas ala sosialita, yang semuanya membutuhkan uang.
Berikut adalah lima prioritas yang sebaiknya dilaksanakan sejak pertama kali anak muda bekerja atau menerima penghasilan:
  • Dana darurat: kumpulkan dana tabungan sejumlah 3 - 6 kali penghasilan per bulan. Tujuannya adalah untuk mengantisipasi kemungkinan terhentinya penghasilan sementara waktu akibat pemutusan hubungan kerja (PHK) atau karena kondisi usaha yang menjadi sumber penghasilan menurun. Jika anak muda dapat mengalokasikan 50% dari penghasilannya untuk membentuk dana darurat maka dalam waktu 6 - 12 bulan akan tercapai kuotanya.
  • Dana pernikahan: kumpulkan dana tabungan sejumlah 6 - 12 kali penghasilan per bulan. Tujuannya adalah untuk mengantisipasi kemungkinan menikah dalam waktu dekat. Jika anak muda dapat mengalokasikan 50% dari penghasilannya untuk membentuk dana pernikahan maka dalam waktu 1 - 2 tahun akan tercapai kuotanya. Lakukan ini setelah dana darurat terkumpul.
  • Rumah: kumpulkan dana tabungan sejumlah 24-36 kali penghasilan per bulan. Tujuannya adalah untuk membayar uang muka rumah (atau uang muka mobil) dan biaya-biaya seputar pembelian rumah. Asumsinya karena kebanyakan orang tidak mampu membeli tunai untuk rumahnya maka mereka mengambil kredit pemilikan rumah (KPR) bank. Jika anak muda dapat mengalokasikan 50% dari penghasilannya untuk uang muka rumah, dalam waktu 4 - 6 tahun akan tercapai kuotanya.
  • Pensiun: ikuti program pensiun yang mendebet sejumlah persentase 5%-10% dari penghasilan per bulan begitu pertama kali bekerja (mungkin usia 22 tahun) dan lakukan terus sampai usia 55 tahun ketika memasuki umur pensiun. Masa akumulasi 33 tahun ini akan menghasilkan ratusan juta, bahkan miliaran rupiah sebagai modal awal hidup pensiun.
  • Kesehatan: beli asuransi kesehatan murni - hanya jika perusahaan tempat bekerja tidak menanggung biaya pengobatan. Ini terutama berlaku untuk para profesional dan pebisnis yang menanggung sendiri biaya kesehatan mereka. Alokasikan 5%-10% dari penghasilan tahunan untuk membayar premi asuransi kesehatan.
    Jika dihitung secara konservatif dengan kuota maksimal, keseluruhannya akan membutuhkan alokasi 50%-60% dari penghasilan untuk ditabung dan waktu 72 bulan atau 6 tahun tahun untuk membentuk dana darurat (1 tahun), dana pernikahan (2 tahun) dan dana rumah (6 tahun). Anda boleh menggunakan kuota minimal jika ingin lebih ringan. Jika anak muda mulai bekerja usia 22 tahun, dia secara finansial akan siap berkeluarga pada usia 28 tahun.
    Dengan melaksanakan ke lima prioritas di atas, anak muda secara otomatis mempersiapkan masa tua mereka dengan dana pensiun serta mampu mengantisipasi risiko keuangan dengan dana darurat dan asuransi kesehatan.

    Kekhawatiran ketidakmampuan finansial yang sering menyebabkan tertundanya pernikahan pun dapat dihindari. Karena masing-masing dapat menggabungkan dana pernikahan dan dana rumah mereka sebagai modal awal menuju siklus hidup finansial selanjutnya.

    Sumber : http://www.bisnis.com/articles/muda-lajang-banyak-uang   

Memilih Investasi Sesuai Usia

Memperbaiki kondisi finansial bisa dimulai dengan menabung, lalu lanjutkan dengan investasi. Jadi, sebaiknya mulai bedakan antara keinginan dan kebutuhan. Termasuk keinginan berinvestasi dengan melihat portofolio (profil) investasi.
Sebaiknya hindari mengambil jalan pintas dengan memilih sembarang investasi. Memilih produk investasi juga membutuhkan perhitungan dengan menganalisis portofolio, yakni usia dan status Anda.

Ahmad Gozali, perencana keuangan, menyatakan, setiap orang memiliki portofolio investasi yang berbeda. Melihat dari kebutuhan, usia, dan statusnya. Apakah Anda lajang tetapi menjadi tulang punggung keluarga, atau lajang yang tidak menanggung kebutuhan orang lain. Apalagi bagi yang sudah menikah, perhitungan cermat sangat diperlukan.

"Portofolio investasi sangat tergantung perhitungan setiap individu, tidak pernah bisa berlaku mutlak. Melihat kebutuhan, usia, bahkan jumlah anak yang ditanggungnya," papar Gozali dalam workshop keuangan bertema "Salary vs Selera", yang diadakan oleh EXPERD di Barcode, Kemang, Jakarta, Sabtu (24/7/2010).

Memilih investasi berdasarkan portofolio tak bisa sembarangan. Bahkan, jika perlu, konsultasikan dengan pakar sebelum memutuskan produk investasi yang tepat sesuai kemampuan dan kebutuhan. Sebagai gambaran, Gozali membagi portofolio investasi sebagai berikut:

- Usia 20-30 tahun
Pada usia produktif ini, investasi risiko rendah dan tinggi masih cukup aman. Komposisinya bisa seimbang (50:50). Produk investasi cukup beragam, mulai dari emas, asuransi investasi, unit link hingga saham. 

- Usia 30 - 40 tahun

Pada usia ini, fokus investasi sebaiknya kepada produk dengan risiko menengah. Komposisinya lebih dominan (60-70 persen). Instrumen investasinya bisa berupa properti, reksa dana, dan unit link. Kurangi investasi pada produk berisiko rendah dan hindari investasi berisiko tinggi.

- Usia di atas 50 tahun
Mendekati masa pensiun, sebaiknya Anda fokus berinvestasi dengan produk berisiko rendah, komposisinya 50 persen. Salah satu produk investasi rendah risiko yaitu ORI. Anda masih aman berinvestasi produk berisiko menengah, tetapi sebaiknya kurangi investasi berisiko tinggi.

- Usia pensiun
Gozali menyarankan, sebaiknya jual investasi berisiko menengah dan tinggi yang sudah Anda miliki sebelumnya. Boleh saja menyisakannya, tetapi porsinya masing-masing 10 persen saja untuk investasi risiko menengah dan tinggi. Selebihnya, 80 persen sebaiknya berinvestasilah di produk dengan risiko rendah, emas salah satu contohnya.

Selamat berinvestasi.


Menabung Takkan Cukup, Mulailah Berinvestasi

Jika Anda dan suami saat ini memikirkan untuk merencanakan dana pendidikan untuk anak atau dana pensiun, cara apa yang Anda pilih? Menabung atau investasi?

Ambil saja contoh, rencana biaya pendidikan perguruan tinggi satu anak dalam periode 18 tahun mendatang. Karena biaya kuliah selalu naik akibat inflasi, Anda perlu menyisihkan Rp 3,5 hingga Rp 6 juta per bulan dalam bentuk tabungan. Biaya ini wajib dikeluarkan dari penghasilan Anda dan suami, di luar pengeluaran rutin lainnya. Coba kalkulasi, apakah Anda dan suami memiliki kemampuan ini?

"Menabung tidak akan cukup karena adanya inflasi. Solusinya adalah investasi dengan mengambil risiko jangka panjang, di atas 10 tahun," papar perencana keuangan Ligwina Hananto, saat talkshow "Reksadana: Kenali Dulu Baru Beli" yang diadakan tabloid Kontan beberapa waktu lalu.

Ligwina menegaskan, menabung bisa dilakukan untuk kebutuhan jangka pendek, empat tahun. Misalnya untuk persiapan sekolah Taman Kanak-Kanak. Namun jika sudah menyangkut pendidikan tinggi, dibutuhkan dana yang lebih besar, dengan memperhitungkan tingkat inflasi setiap tahunnya.

"Inflasi biaya pendidikan tingkat TK-SMA bisa mencapai 20 persen per tahun. Inflasi tingkat perguruan tinggi rata-rata naik 15 persen per tahun. Sekalipun ada sekolah yang tingkat inflasinya rendah, namun uang pangkal tetap tinggi," jelas Ligwina.

Inflasi menjadi pertimbangan utama mengapa investasi menjadi solusi keuangan kelaurga. Hal ini juga berlaku pada persiapan dana pensiun. Karena jika Anda mengandalkan tabungan untuk mendapatkan dana pensiun 25 - 35 tahun mendatang, maka diperlukan Rp 75 juta - Rp 135 juta per bulan. Jumlah ini terlalu besar untuk tabungan, bukan? Rasanya gaji pegawai biasa tak mencukupi kebutuhan ini.

"Jika berusia 25 tahun, dengan berinvestasi Rp 587.000 per bulan Anda mempersiapkan dana pensiun lebih mudah. Untuk usia 35 tahun, Anda bisa berinvestasi Rp 2 juta per bulan. Keduanya mendapatkan target hasil investasi yang sama sebesar 25 persen per tahunnya," ungkap Ligwina, menjelaskan bagaimana investasi memberikan solusi keuangan lebih meringankan dan menguntungkan dibandingkan menabung untuk dana pensiun.

Berinvestasi memang berisiko, namun tegas Ligwina, risiko tidak berinvestasi lebih besar daripada investasi itu sendiri. Risiko, menurutnya, tidak dapat 100 persen dihindari namun bisa diatur. Karenanya ambil risiko jangka panjang, tambahnya.

Investasi sangat bisa diukur, dari tujuannya, risikonya, dan hasil investasinya. Karenanya tujuan Anda ingin berinvestasi menjadi penting. Tetapkan tujuan sekarang juga, buatlah perencanaan keuangan yang matang, dan pilih investasi yang tepat, jika tak ingin uang Anda tak bernilai di masa depan.

Perempuan Bekerja Tak Punya Tabungan?

tabungan perempuanSurvei menunjukkan, sepertiga orang yang bekerja akan mendekati pensiun tanpa tabungan yang cukup untuk menjalani masa pensiun mereka. Satu dari empat orang di atas 50 tahun tak merasa siap memasuki masa pensiun dari sisi finansial. Sebanyak 64 persen lainnya merasa tak tahu berapa jumlah uang yang dimilikinya nanti jika sudah tak produktif. Firma jasa keuangan MetLife Europe, dalam surveinya, juga menunjukkan, kebanyakan perempuan yang bekerja tak memiliki tabungan pensiun yang layak.

Jumlah tabungan perempuan yang bekerja hanya setengah dari tabungan laki-laki bekerja. Jumlah ini belum termasuk persiapan dana pensiun bagi perempuan. Alhasil, lebih dari 4 juta pekerja di atas 50 tahun berharap masih bisa bekerja meski sudah memasuki usia pensiun.

Sementara Pemerintah Inggris mengumumkan batas usia pensiun adalah 70 tahun. Meski begitu, kenyataannya laki-laki akan pensiun dari pekerjaannya pada usia 65 tahun. Adapun perempuan bisa bekerja hingga usia 60 tahun dan setelahnya harus bersiap untuk pensiun. Lain lagi dengan pegawai negeri setempat. Rata-rata gaji bulanan pegawai negeri di Inggris dipotong 3 persen untuk persiapan dana pensiun, kata politisi Inggris, George Osborne, Oktober lalu.
Dana pensiun merupakan perhatian sekaligus masalah yang menjadi tantangan banyak pekerja di Inggris. Bagaimana dengan kita di Indonesia? Sejauh mana dana pensiun dipersiapkan? Beruntung jika perusahaan tempat Anda bekerja sudah memenuhi kebutuhan ini. Meski begitu, apakah dana pensiun dari perusahaan mencukupi kebutuhan 20-30 tahun ke depan?

Dana pensiun perlu direncanakan jauh hari. Menurut perencana keuangan, Ligwina Hananto, dalam acara bincang-bincang seputar investasi, beberapa waktu lalu, tabungan tak akan cukup memenuhi kebutuhan dana pensiun. Ligwina menyarankan investasi sebagai solusi menyiapkan dana pensiun. Apa pilihan investasinya? Jawabnya kembali lagi kepada kebutuhan dan kemampuan finansial Anda.

Sumber : http://female.kompas.com/read/2011/01/15/20152320/

 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. ASURANSI UNIT LINK KESEHATAN PENDIDIKAN PENSIUN INVESTASI TERBAIK - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger