" Sebuah Polis adalah tanda cinta yang paling tulus - by your side, for life"

Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Dana Pendidikan, sudah siapkah?

pendidikan anak, asuransi pendidikan, dana pendidikan

Dana pendidikan, sudah siapkah?

Ayoo..sekolah..." masih ingatkah iklan layanan masyarakat yang dulu sempat ngetren di televisi?
Ya, pendidikan sangatlah penting bagi generasi penerus bangsa ini, para orang tua berusaha semaksimal mungkin akan menyekolahkan anaknya setinggi-tingginya bahkan jika mungkin ke sekolah favorit.

Saat ini ujian nasional sedang berlangsung, siswa berusaha mendapatkan nilai yang baik agar bisa lulus dan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, begitupun orangtua, mereka akan berusaha menyiapkan dana bagi anak-anaknya agar bisa melanjutkan ke jenjang selanjutnya dan menjadi sarjana-sarjana harapan orang tua.
Yang menjadi pertanyaan adalah sudah siapkah kita sebagai orang tua mempersiapkan dana pendidikan bagi putra putri kita? sebagian mungkin menjawab sudah dan sebagian lagi belum.

Bagi yang sudah ada beberapa kemungkinan :
  1. Memang mempunyai kemampuan finasial yang "lebih", misal memiliki investasi, aset yang bisa diharapkan.
  2. Mengikuti program pendidikan, misalkan asuransi pendidikan atau tabungan pendidikan.
  3. Dari awal sudah menyisihkan sebagian dana untuk pendidikan namun tidak mengikuti program pendidikan.
Sebenarnya banyak orang tua yang ­ sadar, pendidikan itu sangat penting, namun kurang menyadari pentingnya mempersiapkan dana pendidikan itu sendiri. Saat tahun ajaran baru, mereka kebingungan akan dana tersebut karena belum ada persiapan, terkadang berbagai cara ditempuh dengan meminjam dana kepada saudara, teman ataupun ke lembaga-lembaga kredit, yang akan semakin membebani kondisi finansial kita kedepan. 

Sebenarnya hal seperti itu tidak perlu terjadi seandainya kita bisa mempersiapkan dana pendidikan sejak awal, misal mengikuti program asuransi pendidikan.
Sebaiknya memang asuransi pendidikan dimulai sejak anak berusia 0 tahun, disamping premi yang disetorkan lebih murah, direncanaan lebih awal adalah lebih baik.  
Namun tidak ada kata terlambat untuk memulai merencanakan dana pendidikan dari sekarang, meskipun putra putri kita sudah sekolah, karena banyak instrumen investasi yang bisa kita ikuti sesuai dengan keinginan, kebutuhan dan kemampuan finansial kita.



Biaya Pendidikan Mahal? Rencanakan Mumpung si Upik masih kecil

Biaya Pendidikan Mahal? Rencanakan Mumpung si Upik Masih Kecil
Biaya Pendidikan Mahal?.  Sosiolog dari Universitas Indonesia, Ida Ruwaida Noor MSi mengingatkan orang tua agar merencanakan pendidikan anaknya sejak jauh hari. Dengan begitu, ketika waktunya tiba, orang tua dapat terhindar dari kepanikan finansial. “Rencanakan alternatif sekolah anak, ke institusi pendidikan seperti apa yang diinginkan,”

Ida melihat kebanyakan orang tua masih belum banyak yang serius merencanakan kelangsungan pendidikan putra-putrinya. Hal yang sama terjadi di sektor kesehatan keluarga. Dana keluarga lebih besar teralokasikan untuk konsumsi yang tidak mendesak semisal untuk busana dan rokok. “Atur kembali prioritas anggaran rumah tangga Anda,” sarannya.
Sementara itu, di masyarakat ada pula kecenderungan lain. Mereka menganggap sekolah anak sebagai simbol status. “Sebaiknya kembalikan kepada kebutuhan anak, renungkan apakah anak betul-betul memerlukan jenis pendidikan seperti yang ditawarkan oleh sekolah yang memiliki nilai prestise itu,” kata Ida.

Pembiayaan pendidikan masa kini merupakan hal yang kompleks. Semakin tinggi jenjang pendidikan biasanya lebih tinggi pula dana yang diperlukan untuk mengenyamnya. “Namun, variasi di tiap jenjang juga ada, seperti di SD rintisan bertaraf internasional yang bisa jadi lebih mahal daripada SMP negeri biasa,” Ida mencontohkan.
Ida menjelaskan biaya pendidikan yang dibebankan ke orang tua siswa sangat terkait dengan sejumlah faktor utama. Sebut saja, jenis kurikulum, fasilitas, dan insentif kesejahteraan guru. “Sekolah yang mengedepankan mutu tentu mahal.’

Kualitas pendidikan anak akan terjamin ketika ia mengikuti pelajaran di sekolah yang mampu memberikan pendidikan yang baik. Namun, sebetulnya, orang tua dapat mengambil alih sedikit porsi peran guru di sekolah, yakni dengan memberikan pengajaran keterampilan sebagai bekal daya saing anak. “Persoalannya, mayoritas orang tua menyerahkan tanggung jawab pendidikan sepenuhnya pada pihak sekolah,” sesal Ida.




Mempersiapkan Biaya Pendidikan Sejak Dini

Mempersiapkan Biaya Pendidikan Sejak Dini.

Pendidikan adalah salah satu bekal paling penting bagi anak. Masalahnya, biaya pendidikan di Indonesia kian mahal. Untuk itu, orang tua sebaiknya mempersiapkan biaya pendidikan anak sejak dini agar bisa memberikan pendidikan terbaik bagi putra-putrinya. Bagaimana pun hingga saat ini masih diyakini bahwa tingginya pendidikan seseorang menjadi salah satu tolok ukur dalam pencapaian jenjang karier.

Berdasarkan survei KONTAN 18 Mei-24 Mei 2011 terhadap 250 responden yang sudah menikah, mayoritas (69,2%) sudah mempersiapkan dana pendidikan anaknya hingga sarjana strata 1 (S1).
Untuk biaya pendidikan anak hingga lulus S1, mayoritas responden (22,4%) menyiapkan Rp 200 juta-300 juta. Lalu 18,8% menargetkan Rp 100 juta-Rp 200 juta. Responden yang berencana menyekolahkan anaknya di luar negeri, menyiapkan dana di atas Rp 1 miliar (2% responden).

Mayoritas responden yang belum mempersiapkan biaya pendidikan anak akan membiayainya dari tabungan (bukan tabungan pendidikan). Yang menarik, 13% responden hingga kini belum tahu dari mana sumber dananya.
Kisaran biaya pendidikan anak hingga Rp 400 juta tersebut tentu saja untuk pilihan sekolah di dalam negeri. Lain cerita kalau ingin menyekolahkan anak di luar negeri. Biaya yang diperlukan untuk studi dan cost of living berkisar sekitar Rp 500 juta per tahun. Artinya kalau seorang anak menyelesaikan pendidikannya 4 tahun, maka biaya yang diperlukan kurang lebih sekitar Rp 2 miliar. Pada survey KONTAN kali ini, ada 2,5% responden yang memperkirakan kalau biaya sekolah anaknya di atas Rp 1 miliar.

Walaupun biaya menyekolahkan anak tersebut tidak murah, tapi 69% responden ternyata sudah mempersiapkannya sejak jauh hari. Sebanyak 39,6% (99 responden) responden menyiapkan dana pendidikannya dalam bentuk asuransi pendidikan dan 28,8% (72 responden) dalam bentuk tabungan pendidikan. Sisanya, para responden menyiapkan dana itu dalam investasi di emas (7,2% atau 18 responden), properti (6% atau 15 responden), reksadana (5,2% atau 13 responden), dan lain-lain (9 responden).

Lalu, bagaimana bagi responden belum mempersiapkannya? Sebanyak 14,4% responden ternyata sudah mencoba menyisihkan uangnya dalam bentuk tabungan umum, dan 5,2% berencana untuk mengikuti program asuransi pendidikan. Sedangkan 4% responden menyatakan belum tahu dari mana sumber biayanya nanti. Beberapa responden (2,8%) berharap bisa mendapatkan pinjaman dari kantor untuk alternatif sumber dananya.
Besarnya perkiraan biaya pendidikan ini berlaku untuk saat ini, bagaimana kalau 10 tahun ke depan? Andai saja kenaikannya dihitung 10% per tahun. Ya, tinggal dikalikan saja. Lalu bagaimana dengan Anda? Sejauh mana persiapannya?

Grafik 1 :Anda Sudah Menyiapkan Dana Pendidikan Anak Sampai Lulus S1?
Anda Sudah Menyiapkan Dana Pendidikan Anak Sampai Lulus S1?

Grafik 2 : Persiapan Dana Pendidikan Anak
Persiapan Dana Pendidikan Anak

Grafik 3 : Bagaimana Kalau Belum Menyiapkan Dananya?
Bagaimana Kalau Belum Menyiapkan Dananya?
Grafik 4 : Target Biaya Pendidikan Anak dari SD Hingga Lulus S1
Target Biaya Pendidikan Anak dari SD Hingga Lulus S1
Grafik 5 : Berdasarkan Gender
Berdasarkan Gender
Grafik 6 : Usia Responden
Usia Responden
Grafik 7 : Pengeluaran Keluarga
Pengeluaran Keluarga 

TIM RISET : KONTAN
Sumber : http://klasik.kontan.co.id/survei/



Rencanakan keuangan masa depan dari sekarang

asuransi jiwa
Rencanakan keuangan masa depan dari sekarang. Asuransi…sebagian orang mungkin paranoid  saat mendengar kata ini, mungkin karena mereka berasumsi bahwa asuransi seakan-akan mendoakan seseorang sakit atau meninggal.  Stigma seperti ini di masyarakat yang seharusnya diluruskan.

Ibarat sebuah kendaraan, kita pasti tidak menginginkan kendaraan itu nantinya akan lecet, tabrakan atau bahkan hilang. Namun itu semua adalah resiko yaitu sesuatu hal yang mungkin bisa terjadi, tinggal bagaimana kita mengantisipasi, meminimalkan dan mencegah terjadinya resiko tersebut misalnya dengan berhati-hati saat berkendara dengan mematuhi rambu lalu lintas ataupun memasang alarm dan kunci ganda pada kendaraan kita, itu yang dinamakan pencegahan.
Begitu juga dengan manusia yang diibaratkan dengan sebuah kendaraan diatas.  resiko ( sesuatu hal yang mungkin bisa terjadi ) sebagai manusia adalah Sakit, Cacat karena terjadi sebuah kecelakaan dan tutup usia (meninggal).

Ada beberapa hal yang menjadi pertanyaan, apakah sakit adalah sesuatu hal yang direncanakan? Apakah sebuah insiden yang mengakibatkan hilangnya salah satu anggota tubuh atau panca indera adalah hal yang kita sengaja?  Pasti semua setuju bahwa jawabanya adalah TIDAK karena pasti semua orang tidak menginginkan hal itu terjadi pada mereka, dan apakah keluarga yang ditinggalkan sudah siap dalam hal FINANSIAL  saat kita dipanggil oleh yang Maha Kuasa?

Semua itu adalah hal yang perlu kita jadikan bahan renungan, karena resiko itu pasti ada tinggal bagaimana kita mengantisipasi dan meminimalkan resiko itu agar nantinya tidak mengganggu kondisi keuangan keluarga karena terjadinya resiko, sehingga keuangan tidak tergerus oleh  biaya rumah sakit dan obat-obatan yang semakin mahal,

Biaya pendidikan yang semakin meningkat dan ada warisan yang bisa kita tinggalkan untuk keluarga saat kita tutup usia. Tentu saja jangan lupa selalu berdoa kepada yang Maha Kuasa agar selalu diberikan kesehatan lahir batin dan selalu dalam lindungan-Nya. Siapa yang tidak mau saat kita sakit ada yang membiayai? Siapa yang akan menolak  saat biaya sekolah semakin tinggi ada yang membayar? Siapa yang tidak ingin saat kita memasuki masa tua ada yang memberikan dana pensiun? Siapa yang tidak ingin, saat kita tutup usia ada warisan yang bisa diberikan untuk keluarga yang ditinggalkan?

Dengan memiliki asuransi semua pertanyaan diatas  akan terjawab, dengan memiliki asuransi berarti kita mengantisipasi seandainya terjadi sebuah resiko dalam siklus kehidupan manusia. Saat kita sakit ada yang membiayai, saat anak masuk sekolah ada yang membayar, saat menginjak masa tua ada yang memberikan dana untuk pensiun dan warisan untuk keluarga saat kita tutup usia. Meskipun tidak seratus persen biaya rumah sakit tercover ( tergantung dari produk asuransi yang diikuti ) namun paling tidak kita terbantu dan tidak terbebani sepenuhnya oleh biaya-biaya tersebut, sehingga keuangan kita lebih aman untuk keperluan-keperluan lain yang sudah direncanakan dan kita tidak perlu sampai menjual asset bahkan berutang kepada orang lain yang nantinya akan memberatkan kondisi keuangan kita.

Saat ini bermunculan produk Asuransi Unit Link yang memadukan antara Proteksi dan Investasi sehingga dana yang kita setorkan untuk pembayaran premi asuransi tidak akan hilang meskipun tidak ada klaim selama masa pertanggungan karena ada investasi yang ditanamkan, yang semakin tahun semakin bertambah dan dapat diambil sewaktu-waktu seperti tabungan di bank.

Terkadang orang berpikiran menunda mengikuti asuransi karena belum terjadi resiko, namun saat sudah terjadi resiko mereka baru benyadari pentingnya manfaat asuransi bagi dirinya dan keluarga. Mari berasuransi dari sekarang karena sebuah polis adalah surat cinta yang paling tulus untuk keluarga.
Bijaklah dalam memilih perusahaan asuransi yang terpercaya dan terbukti profesional, dalami produk yang ditawarkan, jangan terbuai oleh hasil investasi yang tinggi karena investasi bersifat fluktutif.

Oleh : Ganang Gatikta



 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. ASURANSI UNIT LINK KESEHATAN PENDIDIKAN PENSIUN INVESTASI TERBAIK - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger