" Sebuah Polis adalah tanda cinta yang paling tulus - by your side, for life"

Tampilkan postingan dengan label asuransi pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label asuransi pendidikan. Tampilkan semua postingan

Anak investasi masa depan

anak investasi masa depan

 Anak investasi masa depan

Anak adalah investasi, sehingga segala persiapan pendidikannya juga harus diatur dengan baik sedari kelahirannya.
Agar orang tua tidak bingung dengan dana pendidikan anak, sedari dini, orang tua harus menentukan jenjang pendidikan anak yang akan dilalui. Dengan begitu, anggaran pendidikannya sudah bisa diprediksi, untuk kemudian mulai menabung biaya pendidikan.

Salah satu caranya, dengan memilih asuransi pendidikan, biaya pendidikan dari tahun ke tahun meningkat jumlahnya. sehingga perlu antisipasi kenaikan biaya pendidikan di masa yang akan datang.
Menurut survey , rata-rata kenaikan biaya pendidikan sekitar 15 persen setiap tahun. Dengan mengasumsikan kenaikan biaya pendidikan, kita tahu jumlah uang yang harus disiapkan untuk masa depan anak.

Memang ada orang yang lebih suka menabung setiap bulan di bank, dan tidak diambil-ambil. Tidak masalah jika kita bisa berdisiplin demikian. Tetapi, jika tidak, mungkin asuransi pendidikan bisa menjadi jalan keluarnya.

Selain dari itu, asuransi (unitlink) pendidikan mempunyai kelebihan dari sisi perlindungan (Prinsipnya: jika terjadi ’sesuatu’ pada diri kita, maka anak-anak kita tetap mendapatkan jaminan pembiayaan pendidikan sesuai dengan yang kita rencanakan) dan masa menabung yg singkat yang tidak dimiliki oleh tabungan pendidikan. 


4 hal penting dalam hidup

Polis tanda cinta

4 hal penting dalam hidup

Kalau bisa saya simpulkan, secara umum ada 4 hal penting dalam hidup ini, yaitu :


1. Keluarga

Mungkin saat ini anda masih single atau belum berkeluarga, namun suatu saat anda pasti akan menikah, dan setelah menikah kita pasti akan memikirkan keluarga, dalam hal keuangan kita pasti ingin mempunyai tabungan yang cukup.


2. Pendidikan

Dari pernikahan, kehadiran si buah hati pastinya menjadi sebuah dambaan setiap pasangan, seorang anak yang lucu akan melengkapi kehidupan keluarga. Tidak hanya sampai disitu, menyekolahkan anak untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik adalah keinginan setiap orang tua.


3. Kesehatan

Kesehatan setiap anggota keluarga merupakan prioritas, sakit bukanlah sebuah keinginan, namun bukan rahasia lagi bahwa biaya kesehatan itu tidak murah saat sudah dihadapkan pada resiko sakit dalam perjalanan hidupnya, seperti kata bijak berikut ini, " Ingatlah sehat sebelum sakit."


4. Pensiun

Untuk terpenuhinya kondisi keuangan yang memadai saat memasuki masa pensiun, diperlukan persiapan dan perencanaan yang baik. Apapun profesi kita, pegawai negeri, swasta ataupun wiraswasta berhak merasakan ketentraman dalam sisi keuangan di usia lanjut, selain harapan dikelilingi anak dan cucu yang bahagia. 

Lalu pertanyaanya adalah, apa prioritas anda dari empat hal diatas? dan sudah siapkah anda berapa dana yang dibutuhkan?

Marilah merencanakan semuanya dari sekarang, banyak instrumen perencanaan keuangan yang bisa diikuti, salah satunya dengan asuransi unit link, memberikan kemudahan bagi anda untuk perencanaan keuangan masa depan, dengan memadukan antara proteksi (asuransi) dan investasi.

Diulas : Ganang Gatikta



Dana Pendidikan, sudah siapkah?

pendidikan anak, asuransi pendidikan, dana pendidikan

Dana pendidikan, sudah siapkah?

Ayoo..sekolah..." masih ingatkah iklan layanan masyarakat yang dulu sempat ngetren di televisi?
Ya, pendidikan sangatlah penting bagi generasi penerus bangsa ini, para orang tua berusaha semaksimal mungkin akan menyekolahkan anaknya setinggi-tingginya bahkan jika mungkin ke sekolah favorit.

Saat ini ujian nasional sedang berlangsung, siswa berusaha mendapatkan nilai yang baik agar bisa lulus dan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, begitupun orangtua, mereka akan berusaha menyiapkan dana bagi anak-anaknya agar bisa melanjutkan ke jenjang selanjutnya dan menjadi sarjana-sarjana harapan orang tua.
Yang menjadi pertanyaan adalah sudah siapkah kita sebagai orang tua mempersiapkan dana pendidikan bagi putra putri kita? sebagian mungkin menjawab sudah dan sebagian lagi belum.

Bagi yang sudah ada beberapa kemungkinan :
  1. Memang mempunyai kemampuan finasial yang "lebih", misal memiliki investasi, aset yang bisa diharapkan.
  2. Mengikuti program pendidikan, misalkan asuransi pendidikan atau tabungan pendidikan.
  3. Dari awal sudah menyisihkan sebagian dana untuk pendidikan namun tidak mengikuti program pendidikan.
Sebenarnya banyak orang tua yang ­ sadar, pendidikan itu sangat penting, namun kurang menyadari pentingnya mempersiapkan dana pendidikan itu sendiri. Saat tahun ajaran baru, mereka kebingungan akan dana tersebut karena belum ada persiapan, terkadang berbagai cara ditempuh dengan meminjam dana kepada saudara, teman ataupun ke lembaga-lembaga kredit, yang akan semakin membebani kondisi finansial kita kedepan. 

Sebenarnya hal seperti itu tidak perlu terjadi seandainya kita bisa mempersiapkan dana pendidikan sejak awal, misal mengikuti program asuransi pendidikan.
Sebaiknya memang asuransi pendidikan dimulai sejak anak berusia 0 tahun, disamping premi yang disetorkan lebih murah, direncanaan lebih awal adalah lebih baik.  
Namun tidak ada kata terlambat untuk memulai merencanakan dana pendidikan dari sekarang, meskipun putra putri kita sudah sekolah, karena banyak instrumen investasi yang bisa kita ikuti sesuai dengan keinginan, kebutuhan dan kemampuan finansial kita.



Biaya Pendidikan Mahal? Rencanakan Mumpung si Upik masih kecil

Biaya Pendidikan Mahal? Rencanakan Mumpung si Upik Masih Kecil
Biaya Pendidikan Mahal?.  Sosiolog dari Universitas Indonesia, Ida Ruwaida Noor MSi mengingatkan orang tua agar merencanakan pendidikan anaknya sejak jauh hari. Dengan begitu, ketika waktunya tiba, orang tua dapat terhindar dari kepanikan finansial. “Rencanakan alternatif sekolah anak, ke institusi pendidikan seperti apa yang diinginkan,”

Ida melihat kebanyakan orang tua masih belum banyak yang serius merencanakan kelangsungan pendidikan putra-putrinya. Hal yang sama terjadi di sektor kesehatan keluarga. Dana keluarga lebih besar teralokasikan untuk konsumsi yang tidak mendesak semisal untuk busana dan rokok. “Atur kembali prioritas anggaran rumah tangga Anda,” sarannya.
Sementara itu, di masyarakat ada pula kecenderungan lain. Mereka menganggap sekolah anak sebagai simbol status. “Sebaiknya kembalikan kepada kebutuhan anak, renungkan apakah anak betul-betul memerlukan jenis pendidikan seperti yang ditawarkan oleh sekolah yang memiliki nilai prestise itu,” kata Ida.

Pembiayaan pendidikan masa kini merupakan hal yang kompleks. Semakin tinggi jenjang pendidikan biasanya lebih tinggi pula dana yang diperlukan untuk mengenyamnya. “Namun, variasi di tiap jenjang juga ada, seperti di SD rintisan bertaraf internasional yang bisa jadi lebih mahal daripada SMP negeri biasa,” Ida mencontohkan.
Ida menjelaskan biaya pendidikan yang dibebankan ke orang tua siswa sangat terkait dengan sejumlah faktor utama. Sebut saja, jenis kurikulum, fasilitas, dan insentif kesejahteraan guru. “Sekolah yang mengedepankan mutu tentu mahal.’

Kualitas pendidikan anak akan terjamin ketika ia mengikuti pelajaran di sekolah yang mampu memberikan pendidikan yang baik. Namun, sebetulnya, orang tua dapat mengambil alih sedikit porsi peran guru di sekolah, yakni dengan memberikan pengajaran keterampilan sebagai bekal daya saing anak. “Persoalannya, mayoritas orang tua menyerahkan tanggung jawab pendidikan sepenuhnya pada pihak sekolah,” sesal Ida.




Mempersiapkan Biaya Pendidikan Sejak Dini

Mempersiapkan Biaya Pendidikan Sejak Dini.

Pendidikan adalah salah satu bekal paling penting bagi anak. Masalahnya, biaya pendidikan di Indonesia kian mahal. Untuk itu, orang tua sebaiknya mempersiapkan biaya pendidikan anak sejak dini agar bisa memberikan pendidikan terbaik bagi putra-putrinya. Bagaimana pun hingga saat ini masih diyakini bahwa tingginya pendidikan seseorang menjadi salah satu tolok ukur dalam pencapaian jenjang karier.

Berdasarkan survei KONTAN 18 Mei-24 Mei 2011 terhadap 250 responden yang sudah menikah, mayoritas (69,2%) sudah mempersiapkan dana pendidikan anaknya hingga sarjana strata 1 (S1).
Untuk biaya pendidikan anak hingga lulus S1, mayoritas responden (22,4%) menyiapkan Rp 200 juta-300 juta. Lalu 18,8% menargetkan Rp 100 juta-Rp 200 juta. Responden yang berencana menyekolahkan anaknya di luar negeri, menyiapkan dana di atas Rp 1 miliar (2% responden).

Mayoritas responden yang belum mempersiapkan biaya pendidikan anak akan membiayainya dari tabungan (bukan tabungan pendidikan). Yang menarik, 13% responden hingga kini belum tahu dari mana sumber dananya.
Kisaran biaya pendidikan anak hingga Rp 400 juta tersebut tentu saja untuk pilihan sekolah di dalam negeri. Lain cerita kalau ingin menyekolahkan anak di luar negeri. Biaya yang diperlukan untuk studi dan cost of living berkisar sekitar Rp 500 juta per tahun. Artinya kalau seorang anak menyelesaikan pendidikannya 4 tahun, maka biaya yang diperlukan kurang lebih sekitar Rp 2 miliar. Pada survey KONTAN kali ini, ada 2,5% responden yang memperkirakan kalau biaya sekolah anaknya di atas Rp 1 miliar.

Walaupun biaya menyekolahkan anak tersebut tidak murah, tapi 69% responden ternyata sudah mempersiapkannya sejak jauh hari. Sebanyak 39,6% (99 responden) responden menyiapkan dana pendidikannya dalam bentuk asuransi pendidikan dan 28,8% (72 responden) dalam bentuk tabungan pendidikan. Sisanya, para responden menyiapkan dana itu dalam investasi di emas (7,2% atau 18 responden), properti (6% atau 15 responden), reksadana (5,2% atau 13 responden), dan lain-lain (9 responden).

Lalu, bagaimana bagi responden belum mempersiapkannya? Sebanyak 14,4% responden ternyata sudah mencoba menyisihkan uangnya dalam bentuk tabungan umum, dan 5,2% berencana untuk mengikuti program asuransi pendidikan. Sedangkan 4% responden menyatakan belum tahu dari mana sumber biayanya nanti. Beberapa responden (2,8%) berharap bisa mendapatkan pinjaman dari kantor untuk alternatif sumber dananya.
Besarnya perkiraan biaya pendidikan ini berlaku untuk saat ini, bagaimana kalau 10 tahun ke depan? Andai saja kenaikannya dihitung 10% per tahun. Ya, tinggal dikalikan saja. Lalu bagaimana dengan Anda? Sejauh mana persiapannya?

Grafik 1 :Anda Sudah Menyiapkan Dana Pendidikan Anak Sampai Lulus S1?
Anda Sudah Menyiapkan Dana Pendidikan Anak Sampai Lulus S1?

Grafik 2 : Persiapan Dana Pendidikan Anak
Persiapan Dana Pendidikan Anak

Grafik 3 : Bagaimana Kalau Belum Menyiapkan Dananya?
Bagaimana Kalau Belum Menyiapkan Dananya?
Grafik 4 : Target Biaya Pendidikan Anak dari SD Hingga Lulus S1
Target Biaya Pendidikan Anak dari SD Hingga Lulus S1
Grafik 5 : Berdasarkan Gender
Berdasarkan Gender
Grafik 6 : Usia Responden
Usia Responden
Grafik 7 : Pengeluaran Keluarga
Pengeluaran Keluarga 

TIM RISET : KONTAN
Sumber : http://klasik.kontan.co.id/survei/



Menghitung Biaya Sekolah Anak




Menurut perencana keuangan Mike Rini Sutikno, CFP, biaya sekolah anak selalu menjadi masalah keuangan rumah tangga. Pendidikan sama pentingnya dengan kebutuhan pokok seperti sandang, pangan, dan rumah. Dan setiap orangtua harus bisa mengantisipasi, karena pertama, pendidikan itu, meski bukan kebutuhan hidup pokok, tapi sangat krusial dalam rangka membangun kemandirian seseorang anak. Dengan pendidikan, anak nantinya bisa memiliki basic kompetensi untuk bisa menjadi individu yang mandiri, termasuk mandiri secara finansial,” jelas Mike. Oleh karena itu, orangtua harus bisa menyelanggarakan dana pendidikan. Masalahnya, biaya ini tidak murah, selalu naik dari tahun ke tahun. Dalam mempersiapkan dana pendidikan, orangtua dituntut untuk bisa mengalokasikan penghasilan mereka, sementara kemampuan ini tidak merata. Semakin berat dana pendidikan yang harus disiapkan, semakin besar pula dana yang harus dialokasikan.

Orangtua rata¬-rata punya penghasilan, tapi belum tentu bisa mengalokasikan untuk tabungan dana pendidikan anaknya. Faktornya banyak, mulai dari beban biaya hidup, kesalahan pengelolaan keuangan keluarga, menganut gaya hidup yang kurang tepat, sampai inflasi.

Untuk itu harus ada sebuah perencanaan dana pendidikan, sehingga orangtua mampu membayar biaya pendidikan anak sesuai jenjang pendidikannya. Konsep dana pendidikan adalah orangtua menabung sepanjang jangka waktu dana pendidikan anak. Umumnya, jenjang pendidikan anak adalah dari usia 4 (playgrup) sampai usia 18 tahun, jadi sekitar 14 tahun. “Nah, orangtua harus menabung dalam jangka panjang, dan kemudian akan diambil sesuai jenjang pendidikannya, misalnya SD, SMP, dan seterusnya.”

Tampaknya sederhana, tetapi praktiknya banyak tantangan. Kenapa? “Jangka waktu 14 tahun itu jangka waktu yang lama. Inflasi yang terjadi selama 14 tahun itu bisa membuat dana pendidikan membengkak berkali lipat. Ini memberatkan pengalokasian penghasilan orangtua. Juga, rata-rata kenaikan biaya pendidikan tidak sama di berbagai daerah dan sekolah. Nah, tergantung orangtua mau menyekolahkan anak dimana. Orangtua juga harus mempertimbangkan bakat dan minat anak.”
Yang juga harus dipertimbangkan adalah kalau dana pndidikan tersebut berhenti di tengah jalan, karena orangtua tak lagi mampu menabung. Misalnya karena sakit, meninggal, kena PHK, dan sebagainya. Ini harus diantisipasi juga.

Kriteria dana pendidikan yang berhasil adalah pada saat akan digunakan, jumlah dana pendidikan itu cukup, sesuai dengan kenaikan inflasi. “Tinggal tergantung dimana orang tua akan menabung atau menginvestasikan dana pendidikan. Masalahnya, tidak semua orangtua paham bagaimana bisa menabung dengan efektif, karena itu berarti harus punya pengetahuan tentng produk-produk investasi. Bicara mengenai instrumen finanial, berarti kita harus memahami ada risiko dan return (tingkat keuntungan).”

Target Dana
 Jadi, bagaimana cara yang efektif? Pertama, orangtua harus mengitung jenjang pendidikan yang akan dilewati anak. Orangtua harus memahami tahapannya. Misalnya berapa usia anak sekarang, kapan masuk SD, SMP, SMA, dan seterusnya. Contoh, pada tahun 2009 anak berusia 3 tahun, berarti ia akan masuk SD tahun 2011, SMP tahun 2017, dan seterusnya.
Langkah pertama, orangtua harus memperhitungkan kapan membayar dana pendidikan. Bukan sekarang, tapi 3 tahun lagi, 9 tahun lagi, dan seterusnya. Setelah mengetahui kapan membayar, berarti orangtua akan tahu berapa lama waktu yang ia punya untuk mempersiapkan dana pendidikan.
Setelah tahu waktunya, kemudian dilihat berapa biayanya sekarang dan nanti. “Ini berarti orangtua harus tahu kemana anak akan disekolahkan, karena biaya pendidikan di berbagai sekolah nggak sama. Orang tua harus tahu ke sekolah mana anak akan disekolahkan.” Misalnya, SD A, SMP B, SMA C, dan seterusnya. Kalau sudah memutuskan pilihan sekolah, orangtua bisa minta informasi sekolah yang bersangkutan. Tanyakan berapa uang pangkal tahun 2009, begitu juga SMP dan SMA, kalau perlu sampai perguruan tinggi.
Selanjutnya, orangtua harus memperkirakan uang pangkal masing-masing jenjang tersebut kelak ketika si kecil akan masuk. Misalnya dengan perkiraan asumsi kenaikan 10 persen per tahun, berarti pada tahun 2011 ketika si anak mau masuk SD A, uang pangkal dari yang misalnya Rp 5 juta, naik jadi Rp 8 juta. “Ngitungnya gampang, kok, pakai rumus feature value , yaitu menghitung berapa nilai masa depan suatu jumlah tertentu saat ini, dengan asumsi kenaikan tiap tahun. Paling gampang tanya ke penjual produk tabungan dana pendidikan seperti bank atau agen asuransi,” kata Mike.
Ketemulah target dana untuk masuk SD tahun 2011, misalnya Rp 8 juta. Berarti dalam 3 tahun, orangtua harus bisa mengumpulkan dana Rp 8 juta. Berapa rupiah setiap bulan yang harus disisihkan dari penghasilan agar tahun 2011 bisa terkumpul uang untuk sekolah anak. Itu baru SD-nya saja. Hal sama berlaku untuk SMP dan SMA.

Setelah tahu berapa target dan setoran setiap bulan, masih ada lagi yang harus dipertimbangkan, yaitu seandainya terjadi sesuatu di tengah jalan, misalnya orangtua kena PHK atau sakit sehingga tak bisa lagi memperoleh penghasilan tetap.

Kalau begitu perlu diasuransikan. Sebetulnya, menabung sendiri dan beli asuransi sendiri juga bisa. Jumlah yang diasuransikan adalah jumlah dana pendidikan yang perlu dicover, tak perlu berlebihan.” Sekarang, pilihan untuk mengantisipasi risiko tidak terbayarnya DP karena hal-hal tak terduga yang terjadi pada orangtua jauh lebih praktis dan mudah diakses. Biasanya ada produk dana pendidikan yang sudah sekaligus satu paket dengan asuransi. Yang ditawarkan, jika terjadi risiko pada orangtua, maka orangtua terbebas dari kewajiban membayar setoran. Setoran diterusin pihak asuransi.

Yang perlu dilakukan adalah berapa jumlah yang harus diasuransikan. “Pakai saja perhitungan yang di awal tadi. Misalnya SD Rp 8 juta, SMP sekian, dan seterusnya. Jumlah tadi bisa ditaruh sekaligus dan diambil ketika anak mulai masuk ke tiap jenjang pendidikan. Kalau tadinya mencicil, maka sekarang sekaligus untuk mengantisipasi risiko tadi.”

Harus Kreatif
Orangtua harus bersikap lebih kreatif supaya persipan dana pendidikan yang ia jalankan tepat guna. Dana pendidikan itu kan, sifatnya jangka panjang dan ada tahapannya. Masalahnya, kalau orangtua mengambil produk keuangan standar, seperti tabungan, keuntungannya kecil sekali, sementara kenaikan biaya dana pendidikan jauh lebih besar dibanding suku bunga yang bisa diberikan oleh bank. Artinya, kalau orantua ngotot tetap memakai cara itu, setoran tabungan jadi sangat berat karena harus mengejar target dana investasinya."

Oleh karenanya, Mike menganjurkan, jika ada alternatif lain yang bisa memberikan return hasil lebih tinggi untuk investasi dalam jangka panjang, orangtua sebaiknya mempelajari. Orangtua harus meningkatkan selera menerima risiko kerugian. Ada orang yang senangnya cuma menaruh uang di bank, itu artinya dia konservatif sekali, tidak mau ambil risiko apapun. Sebab, produk di luar tabungan selalu ada risiko, seperti lembaga keuangan tutup atau kondisi ekonomi yang tidak stabil yang menyebabkan kinerja instrumen keuangan yang kita pilih turun (risiko sistemik).
Dan karena dana pendidikan ini memiliki tahapan, maka jangka waktu investasinya bervariasi. Ada yang jangka pendek (1-2 tahun), menengah (3 – 5 tahun) dan jangka panjang. Tabungan dan produk keuangan konservatif cocok untuk yang jangka pendek, sementara jangka menengah dan panjang lebih baik pilih produk yang memberikan return lebih baik, seperti obligasi retail, reksadana pendapatan tetap, atau emas. Di atas 5 tahun bisa memaai reksadana saham. “Properti juga bisa, tapi modalnya besar. Masing-masing memang ada plus minunya.”

PERSIAPAN DANA PENDIDIKAN, PENTING TIDAK SIH?

Oleh : Safir Senduk
 
Selalu bisa ditebak bahwa setiap kali awal tahun ajaran baru, semua orang sepertinya bicara tentang pentingnya pendidikan. Dan kalau Anda perhatikan, hal ini biasanya menular kepada semangat bersekolah dari anak itu sendiri. Coba perhatikan betapa bersemangatnya anak-anak Anda ketika mereka masuk sekolah kemarin.

Wajar saja, kalau Anda sebagai orang tua menunjukkan semangat tentang pentingnya pendidikan, ditambah lagi lingkungan di sekitar Anda juga menunjukkan semangat yang sama, maka pastilah semangat tersebut juga akan tertular ke anak Anda sehingga wajar bila anak-anak sekolah sangat bersemangat masuk sekolah pada hari-hari pertama tahun ajaran baru kemarin.

Tetapi sayangnya, dari pengalaman saya selama ini, saya banyak menemukan orang tua yang ­ walaupun sadar bahwa pendidikan itu sangat penting ­ tetapi tidak begitu mempedulikan persiapan dana pendidikan itu sendiri. Sebagai contoh, banyak cerita tentang beberapa orang tua yang meminjam uang kesana-kemari pada saat datangnya tahun ajaran baru. Selain itu, Kantor Pegadaian juga penuh karena banyak orang yang menggadaikan barang-barangnya untuk membayar uang sekolah anak.

Kenapa sih orangtua kadang tidak siap dari segi dana ketika tiba waktunya si anak masuk sekolah? Jawabannya, mungkin karena orangtua tidak menganggap bahwa dana pendidikan itu penting untuk dipersiapkan sejak sekarang. Lho, apakah memang penting menyiapkan dana pendidikan untuk anak? Jawabannya saya tulis besar-besar di sini: PENTING.
Ada empat alasan kenapa dana pendidikan penting untuk dipersiapkan, bahkan kalau bisa sejak sekarang:
  1. Mahalnya Biaya Pendidikan Pada Saat Ini Biaya Pendidikan pada saat ini sudah cukup tinggi. Sebuah universitas swasta terkenal di Jakarta ada yang meminta uang kuliah sebesar sekitar Rp 60 - 70 juta bagi mereka yang masuk kuliah selama 5 tahun sampai lulus nanti. Bagi banyak orang, biaya pendidikan setinggi itu sudah tentu terasa mencekik leher.

  2. Naiknya Biaya Pendidikan dari Tahun ke Tahun Sudah biaya pendidikan di rasa mahal, jumlah tersebut biasanya akan terus naik dari tahun ke tahun. Dengan asumsi kenaikan sebesar 10 persen per tahun, maka dalam 17 tahun mendatang, bukan tidak mungkin Biaya Kuliah selama 5 tahun di S1 bisa mencapai sekitar Rp 300 juta.

  3. Ekonomi Tidak Selalu Baik Orang tua bisa saja menganggap bahwa penghasilannya sekarang aman-aman saja mengingat baiknya keadaan ekonomi sekarang ini. Sehingga mereka yakin bila si anak masuk sekolah nanti, dananya pasti tersedia. Tetapi, bila keadaan ekonomi menurun, bukan tidak mungkin penghasilan orang tua menjadi berkurang atau malah berhenti sehingga bisa saja dana pendidikan untuk si anak tidak akan siap bila dibutuhkan.
  4. Fisik Manusia Tidak Selalu Sehat Jangan anggap bahwa fisik manusia akan selalu sehat untuk bisa terus bekerja dan mendapatkan penghasilan. Bila Anda tidak menabung dan mempersiapkan dana pendidikan anak dari sekarang, maka bila suatu saat kelak fisik Anda tidak memungkinkan untuk Anda bisa terus bekerja, jangan harap dana pendidikan untuk anak Anda bisa tersedia.
Selain keempat alasan di atas, sebetulnya ada satu alasan lagi yang membuat kenapa dana pendidikan penting sekali untuk dipersiapkan sejak sekarang, yaitu: "Karena jadwal pendidikan anak Anda tidak mungkin dimundurkan atau ditunda." Jadwalnya sudah pasti. Contohnya, kalau anak Anda sudah waktunya masuk SD tetapi Anda tidak punya dana yang cukup untuk membayar uang pangkal-nya, masak Anda mau memundurkan jadwal anak Anda masuk SD ke tahun berikutnya hanya supaya Anda bisa membayar biaya uang pangkal-nya secara penuh? Tidak, kan? Jadi, persiapkan dana pendidikan anak Anda sejak sekarang. Jangan tunda lagi. 

Menabung Takkan Cukup, Mulailah Berinvestasi

Jika Anda dan suami saat ini memikirkan untuk merencanakan dana pendidikan untuk anak atau dana pensiun, cara apa yang Anda pilih? Menabung atau investasi?

Ambil saja contoh, rencana biaya pendidikan perguruan tinggi satu anak dalam periode 18 tahun mendatang. Karena biaya kuliah selalu naik akibat inflasi, Anda perlu menyisihkan Rp 3,5 hingga Rp 6 juta per bulan dalam bentuk tabungan. Biaya ini wajib dikeluarkan dari penghasilan Anda dan suami, di luar pengeluaran rutin lainnya. Coba kalkulasi, apakah Anda dan suami memiliki kemampuan ini?

"Menabung tidak akan cukup karena adanya inflasi. Solusinya adalah investasi dengan mengambil risiko jangka panjang, di atas 10 tahun," papar perencana keuangan Ligwina Hananto, saat talkshow "Reksadana: Kenali Dulu Baru Beli" yang diadakan tabloid Kontan beberapa waktu lalu.

Ligwina menegaskan, menabung bisa dilakukan untuk kebutuhan jangka pendek, empat tahun. Misalnya untuk persiapan sekolah Taman Kanak-Kanak. Namun jika sudah menyangkut pendidikan tinggi, dibutuhkan dana yang lebih besar, dengan memperhitungkan tingkat inflasi setiap tahunnya.

"Inflasi biaya pendidikan tingkat TK-SMA bisa mencapai 20 persen per tahun. Inflasi tingkat perguruan tinggi rata-rata naik 15 persen per tahun. Sekalipun ada sekolah yang tingkat inflasinya rendah, namun uang pangkal tetap tinggi," jelas Ligwina.

Inflasi menjadi pertimbangan utama mengapa investasi menjadi solusi keuangan kelaurga. Hal ini juga berlaku pada persiapan dana pensiun. Karena jika Anda mengandalkan tabungan untuk mendapatkan dana pensiun 25 - 35 tahun mendatang, maka diperlukan Rp 75 juta - Rp 135 juta per bulan. Jumlah ini terlalu besar untuk tabungan, bukan? Rasanya gaji pegawai biasa tak mencukupi kebutuhan ini.

"Jika berusia 25 tahun, dengan berinvestasi Rp 587.000 per bulan Anda mempersiapkan dana pensiun lebih mudah. Untuk usia 35 tahun, Anda bisa berinvestasi Rp 2 juta per bulan. Keduanya mendapatkan target hasil investasi yang sama sebesar 25 persen per tahunnya," ungkap Ligwina, menjelaskan bagaimana investasi memberikan solusi keuangan lebih meringankan dan menguntungkan dibandingkan menabung untuk dana pensiun.

Berinvestasi memang berisiko, namun tegas Ligwina, risiko tidak berinvestasi lebih besar daripada investasi itu sendiri. Risiko, menurutnya, tidak dapat 100 persen dihindari namun bisa diatur. Karenanya ambil risiko jangka panjang, tambahnya.

Investasi sangat bisa diukur, dari tujuannya, risikonya, dan hasil investasinya. Karenanya tujuan Anda ingin berinvestasi menjadi penting. Tetapkan tujuan sekarang juga, buatlah perencanaan keuangan yang matang, dan pilih investasi yang tepat, jika tak ingin uang Anda tak bernilai di masa depan.

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. ASURANSI UNIT LINK KESEHATAN PENDIDIKAN PENSIUN INVESTASI TERBAIK - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger